Selasa, 09 Januari 2018

Curug Cipeuteuy, Majalengka

Januari 09, 2018 4 Comments
Ada yang pernah ke Curug Cipeuteuy? Jadi ceritanya saat weekend kami berencana jalan-jalan tapi belum tahu kemana arah tujuan (?). Judulnya yang penting jalan-jalan aja. Akhirnya searching lah kami berdua dengan banyak tempat obyek wisata di wilayah III Cirebon. Daaaaan pilihan kami jatuh pada Curug Cipeuteuy Majalengka. Kenapa pilih di sana? Pertama Kakak baru sembuh dari sakitnya, jadi kami pilih tempat yang tidak terlalu jauh dari Cirebon. Kedua, melihat foto-fotonya dari google sepertinya menarik. Oke bismillahi tawakkaltu alallahi lahawla walakuwwata illa billah..

Berangkat dari rumah (daerah Cirebon Utara) pukul 09.30 WIB sampai di sana pukul 11.00 WIB. Perjalanan memakan waktu 1,5 jam melalui jalur sumber dukupuntang. Perjalanan memasuki Desa Bantaragun ini sangat sejuk, asri, hijaaaaaaaau semua jadi bikin mata berbinar-binar :*. Pemandangan di lereng Gunung Ciremai ini membuat hati menjadi adem. Hutan pinus yang menjulang tinggi, sawah hijau menguning terbentang luas and so very beautiful. Dulu ceunah, di sana hutan dijadikan hutan produksi, tapi sekarang dijadikan hutan konservasi. Nama curug ini pun berasal dari kata peuteuy yang kata orang sunda mah pete. You know 'pete'? makanan yang biasa dijadikan lalaban. Katanya enak, tapi dari dulu yang namanya pete dan jengkol saya belum pernah nyoba sama sekali haha.

Perjalanan mendekati wisata Curug Cipeuteuy ini lumayan naik turun. Tapi jalannya masih mending dibanding ke Curug Maja. Saat ke Curug Maja, waaah lumayan bikin dada sar ser, apalagi waktu itu kami bawa bayi berumur 1,5 tahun hehe, cukup memacu adrenalin. Lain kesempatan in syaa Allah mau nulis wisata ke Curug Maja.

Sesampainya kami di lokasi wisata, sudah banyak mobil dan motor yang terparkir di area sekitar curug. Lihat plat kendaraannya ternyata banyak juga dari luar daerah. Tiket masuk wisata lokasi sebesar Rp 12.500 untuk dewasa dan Rp 10.000 untuk anak-anak. Memasuki gerbang lokasi, kami langsung disuguhkan dengan papan reklame bertuliskan VOTE untuk menjadikan Curug Cipeuteuy ini menjadi kawasan wisata.

 


Pilihan arah panah menunjukkan ke lokasi curug, budidaya anggrek, bumper, jalur hiking dan pengamatan satwa. Kami memutuskan ke curugnya. Menyusuri jalanan yang agak basah karena saat itu baru selesai hujan. Pohon-pohonan banyak yang sudah diberi nama ilmiahnya dan itu menurut saya keren. Tempat sampah yang tertata dengan baik di setiap berjalan sekitar 10 meter. Gazebo pun dalam keadaan bersih dan warung-warung yang ada di sana termasuk murah. Kan banyak tempat wisata yang menyuguhkan makanan dan minuman bisa sampai 2 kali lipat dari harga umumnya. Tapi tidak di Curug Cipeuteuy ini. Saat itu kami hanya membeli susu hangat, kopi, coklat, sosis dan gorengan cuma Rp 20.000 (tejangkau banget).  Bisa juga bawa bekal sendiri dari rumah. Kamar mandi yang bersih dan airnya yang brrrrrrrrrr dinginnya banget tapi sejuk sih. Kakak dan ayahnya berenang walaupun saat itu dalam kondisi hujan rintik-rintik. Saya hanya menunggu dan melihatnya di gazebo dekat curug. Tinggi curug hanya sekitar 5 meteran. Tapi dengan dibendung sesuai kolam yang tidak terlalu besar ini membuat betah pengunjung. Ditambah air nya yang jernih dan dingin bikin ketagihan 'oyok-oyok' di sana. 


Air terjun yang di bagian bawah

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, sudah memasuki waktu dzuhur ditambah kondis hujan cukup deras akhirnya kami menyudahi berenang nya. Ada sedikit drama ketika Ayah bilang ke Kakak untuk menyudahi kegiatan berenangnya. Kakak enggan keluar dari kolam. Ya walaupun kedinginan dan awalnya Kakak tidak berani turun kolam. Pada akhirnya dengan bujuk rayu mau juga untuk berbilas. Kakak dan ayah bergegas ganti pakaian dan langsung berjalan ke atas lagi untuk sholat di mushola. Musholanya juga cukup nyaman walaupun hanya memakai alas tikar. Makan siang di warung dekat mushola dan lalu kami melanjutkan perjalanan pulang. Alhamdulillah... dengan hanya jalan-jalan ke Curug Cipeuteuy cukup menghilangkan penat setelah seminggu berkutat dengan kerumahtanggaan. See you next posting dear... (Maapkan foto-foto yang seadanya, karna di sana sangat menikmati pemandangannya dan ngga banyak cekrak cekrek hehe)

#30DaysWritingChallengeDay9
#ODOPfor99Days9








Senin, 08 Januari 2018

Home Education - fitrah based education

Januari 08, 2018 0 Comments
Baiklah... absen dari menulis ini membuat saya memiliki 'hutang'. Hutang tidak berbagi tulisan yang masih jauuuuuuuh dari sempurna ini. Walaupun begitu semoga ini bisa dijadikan manfaatnya. Seperti jargon tempat saya kerja dahulu, "Ambil yang baik, buang yang buruk dan ciptakan yang baru". Saya rasa ini jargon cukup memiliki andil dalam proses setiap para pembelajar. Dan me time kali ini di tengah malam yang hening dengan hanya ditemani air putih dan dua gelas jeruk nipis hangat, karna saya lagi batuk pemirsa :'(.

Setelah kami mengikuti seminar parenting Ibu Elly Risman, Psi di Hotel Bentani setahun lalu,  kami sangat concern sekali pada pendidikan untuk anak-anak kami kelak. Dan terlebih lagi dalam sebuah hadist dikatakan

              "Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orangtua kepada anaknya selain pendidikan yang baik" (HR. Al Hakim:7679)

Dan semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah kelak. Ngeri kalau kita salah langkah dalam menunaikan haq dan kewajiban kita pada anak-anak.

Ok, kita mulai dari sebuah pertanyaan. Apa sih home education? Menurut Ustadz Harry Santosa selaku founder komunitas HEbAT (Home Education based on Akhlak and Talents), home Education bukan berarti memindahkan sekolah ke rumah, bukan pula menjejalkan pengetahuan kepada anak (out side in). Namun membangitkan fitrah belajar anak agar muncul (inside out). Karena sejatinya setiap anak adalah pembelajar yang tangguh, kecuali jika fitrahnya telah terkubur atau tersimpangkan.

Siapa yang bertugas menjadi home educator? tidak lain dan tidak bukan adalah kita sebagai orangtua. Perkara sekolah formal atau informal itu terserah, tapi yang wajib adalah home education dengan orangtua sebagai pendidiknya.

Sejatinya, kebaikan dalam diri anak adalah sebuah fitrah yang telah Allah anugerahkan padanya, tinggal bagaimana kita mengembangkannya menjadi sebuah potensi yang melejit dari dalam dirinya sehingga ia menemukan jati diri yang sesungguhnya dan paham akan maknanya untuk apa ia diciptakan di dunia ini. Bagaimana kita menumbuhkan berbaga macam fitrah yang telah allah kasih untuk menjadi khalifah di muka bumi, menjadi bagian sejarah peradaban. 

Zaman itu pasti berubah, tetapi aqidah akan tetap sama hingga akhir hayat. Maka bentengi aqidah untuk memfilter zaman yang semakin 'menggila'. Bentengi iman anak-anak kita sebelum mereka beramal mengamalkan yang telah Allah perintahkan. Balik lagi pada konsep iman sebelum amal.
Fitrah itu ditumbuhkan (inside out) sementara adab itu ditanamkan (outside in), Ustadz Harry Santosa. Menurut beliau, fitrah itu dibagi menjadi beberapa macamnya diantaranya fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah perkembangan. Lebih lengkapnya boleh mampir ke sini


Dari sini saya sedikit tercerahkan mengenai fitrah based education dan semakin tertarik untuk mempelajarinya lebih mendetail. Harapannya suatu saat diberi kesempatan untuk membaca dan memiliki bukunya dan mengikuti seminar parentingny Ustadz Harry Santosa. Aamiin ya Allah :)

Belajar terus ya bu ibu... jangan pernah berhenti belajar! La haula wala kuwwata illa billah

-To be continued tentang Fitrah Based Education (FBE)

Foto ini merupakan salah satu fitrah belajar dan bakatnya Kakak Azzam dalam hal bermain ke sana kemari :D. Ini ceritanya Kakak melakukan fieldtrip pada Hari Selasa siang. Dimulai dari rumah berangkat pukul 14.00 ,menuju Bank Muamalat untuk transfer pembelian buku. Kami sengaja naik angkot supaya Kakak bisa merasakan feel ngangkot hehe. Sesampainya di bank, saya transfer sejumlah uang dan Azzam senang lalu berkata "Mamah Am" (Atm maksudnya). Selesai transfer dilanjutkan berjalan kaki menuju Stasiun Kejaksan. Di stasiun Kakak sangat senang dan antusias sekali menunggu kereta lewat. Sekitar sejam kami berada di sana dan mondar mandir ke sana kemari. Cukup menguras tenaga, secara anak laki-laki dan Kakak termasuk anak yang aktif. Bada ashar kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid At Taqwa dengan mengendarai becak. Sekalian memperkenalkan alat transportasi darat ke Azzam. Sesampainya di masjid, Kakak langsung naik turun tangga masjid sampai 10 kali ada mungkin ya (sampe emaknya tepar) dan permberhentian terakhir di playground dekat masjid (penyakuran energi Kakak terakhir) walaupun ngga abis-abis energinya haha. Masyaa Allah..Kakak sholih, barokallah Nak.


#30DaysWritingChallengeDay8
#ODOPfor99Days8








Minggu, 07 Januari 2018

Mahfudzot

Januari 07, 2018 2 Comments
Pengalaman adalah guru terbaik. Sering mendengar kan pepatah itu? Ternyata memang benar, pengalaman adalah guru terbaik. Misalkan punya pengalaman dalam mengikuti olimpiade tingkat nasional, nah kita bisa bercerita pada anak cucu kita seputar pengalamannya dalam mengikuti olimpiade itu. Pernah punya pengalaman traveling ke Turki, nah suatu saat kita bisa jadi guide untuk keluarga ketika traveling ke sana,  atau minimalnya bisa bercerita lagi ke anak cucu kita tentang wisata religi di negara Turki. Semua pengalaman bisa dijadikan guru terbaik kalau kita bisa dengan bijak memaknai setiap pengalaman yang pernah kita lalui.  

Kenapa dengan bijak? karena kalau hanya merasa 'pernah mengalami' terus berlalu begitu saja tanpa mengambil pelajaran dari pengalaman itu, semua nya akan menjadi butiran debu. "Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam. Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Aku tanpamu butiran debu... #jiiiiih malah sing a song jeh hahaha.

Sebenarna saya mau menulis tentang pengalaman saya saat menjadi guru. Menjadi guru TK waktu itu (internship) sebelum menjadi wali kelas 1 (Kelas Sa'ad Bin Abi Waqosh). Alhamdulillah puji syukur pada Allah swt karena telah menempatkan saya menjadi guru TK. Dari pengalaman itu saya belajar bagaimana berinteraksi dengan anak-anak seusia mereka. Setiap pagi diawali dengan berbaris, sing a song and start the day with bismilllah, do'a, dilanjutkan story telling in the morning dst. Salah satu yang saya pelajari dari penglaman menjadi guru TK adalah tentang al mahfudzot. Lulusan pesantren familiar dong ya dengan kata ini? 


Apa arti al mahfudzot? al mahfudzot artinya kalmat-kalimat indah yang berisi kata-kata mutiara, pepatah bijak, hikmah dan falsafah hidup. Nah setiap pekan anak-anak diajarkan untuk menghafal satu kata mahfudzot. Mahfudzot ini menurut saya termasuk salah satu hal penting untuk mengenalkan anak pada bahasa arab dan juga perintah-perintah dan larangan sederhana yang diajarkan islam. Mahfudzot ini kemudian saya adopsi untuk Kakak Azzam, yang sedang homeschooling. Semalam saya buat di lembaran kertas origami dan akan saya tempel di spot-spot tertentu di dalam rumah. Dengan harapan bisa sambil menghafal juga sayanya hehehe. Sebagai contoh...misalkan setiap akan makan, selain berdo'a mau makan saya juga akan mengajarkan Azzam untk berkata "Kul biyamiinika" yang artinya makanlah dengan tangan kananmu. Contoh lain lagi, ketika anak sedang makan berdiri kita berkata "Laa takul qooiman" yng artinya jangan makan sambil berdiri. Kata lain lagi, ketika anak sedang minum sambil berdiri, lalu kita berkata "Laa tasyrob qooiman" yang artinya jangan minum sambil berdiri. Ketika anak kita sedang tantrum atau sedang dalam perasaan marah, maka kita harus berkata "Laa tagdhob walakal jannah" yang artinya janganlah marah surga bagimu. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini pun akan mengingatkan kita sebagai orangtua, misalkan ketika kita akan marah kita akan ingat bahwa kita pernah mengajarkan mahfudzot tentang marah pada anak. Jadilah urung niat marahnya hehe...

Sungguh ini akan menjadi perubahan yang signifikan jika kita sebagai orangtua bisa konsisten untuk menerapkannya. Ini gambar di bawah sebenarnya belum semua mahfudzot saya tulis, on going process :). Selamat mencoba di rumah ya ^^


#30DaysWritingChallengeDay7
#ODOPfor99Days7



Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya

Januari 07, 2018 2 Comments
Di suatu minggu pagi yang cerah, tepatnya tadi pagi ceritanya saya dan Azzam sedang bermain di sekitaran rumah, sampai ke tetangga belakang.. tiba-tiba seorang nenek berkata,
           
          "Nah iya gitu mba, anak tuh enakan diumbar gini jangan di'kerem' terus."

Langsung tertegun dalam hati. What? di'kerem'? (Di'kerem' kalau dalam bahasa daerah wong Cirebon artinya dikurung dalam suatu tempat, disembunyikan, lebih terkesan negatifnya. Bisa disebabkan karena anak yang nakal atau lainnya sehingga orangtua memilih untuk mengurung anaknya di suatu tempat, bisa dalam rumah atau bahkan dalam kamar mandi).

Sungguh langsung nyelekit banget sampai masuk hati. Saya tidak banyak berkata-kata saat itu. Saya hanya tersenyum dan kebetulaaaaan banget Azzam saat itu pipis di celana (ceritanya lagi belajar toilet training). Jadilah saya langsung membawa Azzam pulang untuk ganti celana. Setelah itu, saya duduk diam dan tarik nafas untuk memulai cerita ke suami.

"Ayah, tadi Nenek bilang bla bla bla.... " cerita dengan perasaan agak kesel dan campur aduk. Dan Ayah hanya bilang, "Istighfar Nurul...terus istighfar dulu aja, barangkali kita pernah berbuat salah yang kita ga tau, ya kan?". Oke baiklah, saya terus istighfar dan setelah perasaan agak tenang, saya lanjutkan curhat sama suami.

"Ayah, kita kan ga di dalem rumah terus. Ya kan? setiap pagi kita keluar main di pelataran, kadang tetangga depan kanan kiri (secara anak laki-laki itu energinya besar dan terus berkembang dalam hal motorik kasarnya). Cuman jarang aja kita ke belakang. Terus apa Nenek tahu kita sering main ke luar? Kan rumahnya di belakang, ga keliatan juga kan kalau keluar pintu rumah? Terus apa Nenek tahu jam tidur Azzam yang kadang sampe 3 atau 4 jam (hampir menghabiskan waktu setengah harinya)? Engga kan ya? Terus kalau ga tidur, apa Nenek tahu apa yang kita lakukan di dalam rumah? Azzam itu kan homeschooling, belajar sama kita kan Yah? bermain, berlari, bernyanyi lompat sana lompat sini, belajar mengaji juga, banyak hal yang kita lakukan bareng Azzam. Ga melulu di dalam rumah, Azzam juga kadang belajar di luar rumah. Lagi-lagi Nenek rumahnya di belakang (yang ga tau aktivitas kita di depan rumah). Nurul memang jarang nangga karena banyakan ghibahnya dan ga 'kiyeng'an, tapi kan sesekali juga Nurul main ke Mamah Lisa, Mamah Wali, Mamah Depong. Jadi ga pure dalem rumaaaaah terus. Lagian bosen juga kan kalau dalem rumah terus. Nurul juga kan sering main ke rumah mamah. Apa Nenek tahu Nurul ada di rumah atau ga nya sedangkan rumah beliau sendiri ada di belakang rumah dan ga berhadapan dengan kita. Iya kan Yah?" 


Cerita panjang lebar dan Ayah berkata lagi, "Istighfar Nurul...istighfar... Udah ga pa pa orang lain bilang gitu, yang penting kita tetep berusaha baik sama tetangga." Baiklah, mungkin menurut beliau saya memang lebih banyak diam di rumah, tak apa Nek, tak apa.


Ya allah... astagfirullahal'adziim... aku mohon ampun padaMu Ya Rob. Mungkin saya yang lagi sensi jadilah perasaan campur aduk sejak Nenek bilang begitu. Tapi Nek, tahukah?ada yang mau saya sampaikan, saya jadi teringat sebuah hadist Rasulullah saw,

          Umar ra. berkata: "Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian" .

Dari perkataan beliau tersebut bisa kita artikan bahwa zaman pasti berubah, ilmu pengetahuan itu dinamis, pergaulan pun berubah, terlebih lagi yang berbau teknologi (bisa jadi saat kita mau minum kita hanya perlu menggunakan sensor suara kita dan gelas itu sudah ada aja di depan kita, bisa jadi kan?). Perubahan-perubahan itu berakibat pada cara pandang orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Zaman saiki beda sareng zaman Nenek. 

Kenapa saya pilih homeschooling? Karna masa golden age anak-anak tidak akan terulang kembali dan pada masa-masa itu neuron-neuron berkembang sangat pesat sekali. Anak-anak dapat dengan mudahnya menerima informasi yang ia lihat dengar dan rasakan. Kami menginginkan di masa golden age nya ia dekat dengan kami sebagai orangtuanya, sangat akrab dengan ayahnya, dan berharap ia akan tumbuh menjadi pribadi yang sholih. Ditambah, zaman saiki wong sekarepe dewek Nek. Kaum sodom sudah merajalela. Anak pertama saya laki-laki Nek, dan anak lelaki itu rentan candu pornografi (awal kehancuran suatu bangsa). Ngeri Nek, apakah Nenek tahu itu? 

Dan lagi, menghadapi zaman yang semakin canggih, ilmu pengetahuan pun akan semakin berkembang dong ya. Dan ilmu pengetahuan terlengkap ada semuanya telah dijelaskan 1400 tahun yang lalu dalam islam. Maka dari itu kami ingin menjadi orang pertama yang mengenalkan islam pada mereka (anak-anak kami), mempersiapkan anak-anak kami dalam menghadapi perkembangan zaman ke depan, di dalam rumah kami sendiri. Sehingga ia bisa menjadi insan sholih yang bermanfaat untuk ummat seperti sabda Nabi Muhammad saw "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia" 

Jadi kembali lagi, saya sebenarnya tidak sakit hati apa yang telah Nenek ucapkan, tapi agak sedih. Itu saja Nek. Semoga di lain kesempatan saya bisa berbagi pada Nenek tentang hal ini. Maafkan saya ya Nek sebelumnya atas perasaan saya yang agak kesal. Hampura :) Astaghfirullahal'adzim wa atubu ilaih.

Hikmahnya: Mungkin setiap hari saya harus nangga. Mungkin memang saya yang harus lebih dekat dengan tetangga. Itu catatan PR nya. Padahal baru aja 2 hari lalu nulis tentang adab bertetangga. Inget aja kalimat fashbir shobron jamiila..


#30DaysWritingChallengeDay6
#ODOPfor99Days6
(pict taken from google)

Sabtu, 06 Januari 2018

Dialog Iman

Januari 06, 2018 0 Comments
Mamah: "Siapa Pencipta Azzam?"
Azzam: "Allah"
Mamah: "Apa agama Azzam?"
Azzam: "Iam (islam)"
Mamah: "Siapa Nabi Azzam?"
Azzam: "Hamad (Muhammad)"
Mamah: "Apa kitab Azzam?"
Azzam: "Qu'an (Al qur'an)"

Azzam (2,2 years old)



Itulah sepenggal percakapan saya dan Azzam. Saya sering membuka percakapan dengannya dan diarahkan untuk mengenal Rabb, Penciptanya. Percakapan itu dilakukan dari mulai Azzam bisa berbicara (meskipun baru bisa memanggil kata "Mah" di usia nya pas satu tahun) hingga sekarang terus saya lakukan dan kemudian diimplementasikan menjadi sebuah aktivitas antara ia dengan Allah. Seperti bersama-sama kami berwudhu dan kemudian melaksanakan sholat berjama'ah. Azzam memang belum mengerti apa itu wudhu, apa itu sholat dan apa itu mengaji. Tapi kita sebagai orangtua sudah berkewajiban untuk menjelaskannya, untuk apa ia akukan itu semua? Penjelasannya pun harus disertai dalilnya, baik hadist maupun al qur'an. Misalnya lagi ketika akan makan, kita menyuruhnya, 

"Azzam baca bismillah dulu sayang sebelum makan"

Ia terkadang mengikuti, dan kadang juga tidak. Tetapi jika kita menyuruhnya dengan bahasa ibu dari hati yang paling dalam dengan disertai dalilnya, seperti ini, "Azzam baca bismillah dulu sayang sebelum makan, karna Nabi Muhammad bilang kalau sebelum makan kita harus membaca basmallah dulu, diawali dengan menyebut nama Allah dan in syaa Allah Allah akan senang". In syaa Allah ia akan mengikuti dengan senang hati.

Nah dari sini, kita telah berusaha membiasakan anak kita (juga pada diri kita sendiri) untuk mengacu pada segala yang tertuang dalam al qur'an dan sunnah. Ini tidak mudah lho...sungguh. Secara saya pun masih banyaaaaak sekali ketidaktahuannya akan dalil-dalil yang tertuang dalam qur'an dan hadits. Tapi saya selalu ingat kalimat dalam al qur'an yang bunyinya "Faidza 'azamta fatawakkal'alalloh"..nah ini yang bikin adem...artinya adalah "Apabila kamu telah bertekad maka bertawakkallah pada Allah" 

Sesungguhnya anak itu bukan kertas kosong. Ia seperti spons yang dapat dengan mudahnya menyerap semua yang ia dengar, lihat dan rasakan. Bayangkan jika anak kita sama sekali tidak pernah dikenalkan siapa Penciptanya, apa agamanya, siapa nabinya dan apa kitab nya. Apa jadinya? Wallahu'alam... Itulah tugas kita sebagai orangtua bagaimana mengembangkan fitrah anak-anak menjadi panah yang siap terlepas dari busurnya dan tepat mengenai sasarannya. Menjadi hamba Allah yang taat. Dan mengingatkan lagi hakikat penciptaan kita di dunia itu untuk apa sih? Yuk tengok QS Adz Zariyat: 54
          
            "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah"

Noted: untuk beribadah! Jadi teringat apa yang disampaikan murobbi  2 pekan lalu. Beliau berkata, "Tujuan kita itu hanya satu. BERIBADAH. maka sudah fokus saja untuk mencapainya. Aral melintang  yang membersamai itu sudah sunatullah. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan teruslah berdoa, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah".

Diingatkan kembali bahwa segala yang kita lakukan di dunia ini adalah untuk beribadah. Pun sama halnya dengan mendidik anak, bahwa ini adalah ibadah yang menghantarkan kita pada jannah Allah. Tanamkan yang pertama dan utama pada anak adalah IMAN. Iman sebelum mengajarkan pada hal lain yang begitu luas. Setelah mereka (anak-anak kita) merasakan manisnya iman, barulah kita kembangkan pada ilmu Allah yang lainnya yang sangaaaaat luas. Ma syaa Allah... menulis sampe bagian terakhir ini semakin merasa diri ini belum berbuat apa-apa untuk menanamkan iman pada Azzam dan jadi bertambah sedihlah  Allah Ya Ghofiir... Faghfirli Ya Roob. Semua yang salah datangnya dari diri yang lemah ini. Wallahu'alam bishowab.

#30DaysWritingChallengDay5
#ODOPfor99Days5


Jumat, 05 Januari 2018

Buku adalah keajaiban

Januari 05, 2018 4 Comments
Kamu suka membaca?
Buku apa yang biasa dibaca?
Siapa penulis yang kamu sukai?
Berapa lama waktu yang digunakan setiap kali membaca dalam sehari?
Berapa target buku yang harus kamu tuntaskan di tahun 2018?
Bagaimana harapanmu terhadap dunia literasi?
Apa yang bisa kamu  lakukan untuk menyelamatkan dunia literasi di Indonesia? (yang konon katanya negara tercinta kita mendapatkan ranking ke 60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. Is it right? *geleng-geleng kepala) 

Berangkat dari sebuah surat dalam Al Qur'an (QS. Al Alaq 1-5) yang merupakan wahyu pertama Nabi Muhammad saw. Dalam  buku Sejarah Emas dan Atlas Perjalanan Nabi Muhammad karya Syeikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri diceritakan:

     Nabi biasa menyendiri di Gua HIra dan beliau bertahannuts - beribadah- selama beberapa malam setelah sebelumnya beliau menyiapkan bekal untuk itu. Setelah beberapa malam beliau kembali pulang ke rumah untu mengambil bekal lagi. Beliau melakukan itu terus hingga kebenaran datang saat beliau berada di Gua Hira. Malaikat datang dan berkata, "Bacalah!"

"Aku tidak bisa membaca", jawab beliau.
Beliau melanjutkan: "Malaikat itu memegang dan merangkulku hingga aku merasa kelelahan, lalu ia melepaskanku".
Malaikat itu berkata, 'Bacalah!'
"Aku tidak bisa membaca", kata Rasul.
Beliau bercerita lagi: "Malaikat itu memegangku kedua kalinya dan merangkulku hingga aku merasa kelelahan, lalu ia melepaskanku."
Dia berkata, 'Bacalah!'
"Aku tidak bisa membaca", jawab Rasul.
Lanjut beliau, "Malaikat itu memegangku ketiga kalinya dan merangkulku hingga aku merasa kelelahan, lalu ia melepaskanku.
Malaikat itu berkata, 'Bacalah!'
"Aku tidak bisa membaca", jawab Rasul
Malaikat itu berkata, "Bacalah dengan nama Rabb-Mu yang telah menciptakan. (Yang) menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Rabb-Mu yang Paling Mulia.".......

Lihatlah... bagaimana malaikat menyuruh Nabi Muhammad saw untuk membaca. Iqra, iqra, iqra, iqra dan iqra! Membaca disini dalam arti luas, membaca alam dan lingkungan sekitar. Dan salah satu ikhtiar kita sebagai hamba dalam menjalankan amalan surat al alaq tadi adalah dengan membaca BUKU. 

  "Buku adalah gudangnya ilmu dan membaca adalah kuncinya"

Sering mendengar dong ya pepatah itu. Dengan membaca kita jadi banyak tahu. Jujur saja, minat baca saya baru berkembang saat SMA -payah banget kan? :'(. Buku bacaan saya pun saat SMA sekelas novel-novel, bacaan ringan berbentuk narasi deskripsi. Sejarah? saat itu males banget bacanya :D. Tapi semenjak tingkat akhir kuliah cukup sering baca sejarah. Memang benar membaca buku adalah salah satu kunci agar kita memiliki wawasan luas tentang dunia, tentang alam yang telah Allah ciptakan dan tentang semua hal. Sok geura buat target sebulan berapa buku yang harus kita baca. Dengan targetan itu kita jadi lebih semangat berilmu selain bergaul tentunya. Allah pun akan meninggikan orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Cung siapa yang mau? I'am! Jadi alasan apalagi bagi kita untuk tidak rajin membaca? sedangkan Allah saja menjanjikannya. Dan dengan membaca, otak kita akan berfikir dan mengimajinasikan apa yang ada di dalam buku tersebut. Lantas kita tergerak untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.  Dan dengan menulis sebenarnya kita pun telah menuangkan apa yang ada dalam pikiran kita.

Imam Syafii berkata, “Ilmu laksana hewan buruan, dan tulisan adalah pengikatnya ikatlah hewan buruanmu dengan tali pengikat yang kuat. Diantara bentuk kebodohan adalah jika engkau memburu rusa, Engkau tinggalkan buruanmu tersebut bebas (tanpa diikat). Jadi kita harus mengikat ilmu dengan sebuah tulisan. Itulah yang sedang saya jalankan.


Itu home library saya? aamiin ya Allah.. aamiin Allahuma aamiin :D :*, tapi itu bukan milik saya hehehe

Saya bermimpi, suatu saat di rumah kami, kami bisa mewujudkan home library. Anggota keluarga di dalamnya haus akan ilmu pengetahuan, sehingga akan terus, terus dan terus belajar mencari ilmu dengan membaca, berdiskusi dan berguru dengan para ahlinya. Mari diaminkan :D

Saya dan suami pun sedang berusaha menumbuhkan minat baca pada Kakak Azzam. Semenjak bayi, kami membuat budget untuk beli buku Kakak minimal sebulan sekali. Dan kami pun sering membaca dan atau membacakan cerita pada Kakak. Efek nya, Kakak sering sekali minta diceritakan salah dua buku yang sedang jadi favoritnya. Ini dia buku yang sekarang jadi favoritnya...


Kalau ada postingan yang berseliweran tentang buku itu rasanya kalap. Pengen semua buku. Apalagi kalau udah datang ke toko buku. Waaaah mata bisa tiba-tiba jadi ijo hahhaha. Tapi dingatkan suami, "Calm, step by step". Oke baiklah. Kalau ada temen yang nawarin arisan buku juga. Wah jangan ditanya, pengen ambil semuanya. Secara bukunya bagus-bagus, recommended, tapi liat harga berjuta-juta. Tapi diingatkan lagi, "Calm, mending nabung aja dulu jangan arisan". Makanya suka amazing sama book advisor... kita harus menghargai mereka, karna mereka juga salah satu pejuang literasi di negeri kita tercinta.

Bulan ini saya sedang membaca bukunya Teh Kiki Barkiah "Satu Atap Lima Madrasah". Hadiah ikut kuis hehe. Review bukunya kapan-kapan ya, karna belum selesai bacanya :D. Tapi saat membaca awalnya ini buku recommended, apalagi untuk saya yang sedang menjalankan homeschooling untuk Kakak Azzam. Cerita homeschooling juga dilain postingan saja ya, in syaa Allah akan membahas sedikit tentang pengalaman Kakak menjalankan HS. Resolusi 2018 salah satunya adalah membaca satu buku/bulan. Sebenarnya ingin baca 2-3 buku, tapi dengan segudang aktivitas emak-emak rumah tangga macam saya ini agak ragu juga bisa menyelesaikan 3 buku/bulan. Biarpun sedikit asal konsisten tidak masalah...bukankah itu yang disukai Rasulullah? :D.

Pada akhirnya saya akan mengajak pada semuanya, "Hayuk kita budayakan lagi membaca yang saat ini sudah mulai luntur! Karna dengan membaca, artinya kita sedang membuka cakrawala dunia dan alam semesta ciptaan Allah Yang Maha Pencipta"

Iqra, iqra dan iqra!

#30DaysWritingChallengeDay4
#ODOPfor99Days4

Kamis, 04 Januari 2018

Yuk Nangga!

Januari 04, 2018 0 Comments
(pict from google)

Rasulullah bersabda, “Ada empat diantara kebahagiaan di dunia (yaitu) : istri yang sholihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih (baik), dan kendaraan yang nyaman” – [HR. Ibnu Hibban]

Dulu pas masih lajang, tetangga saya ya seumuran dengan Mamah Bapak saya. Setelah menikah, saya memiliki tetangga sendiri. Keputusan untuk mengikuti suami dan berpisah dengan orangtua adalah keputusan yang tepat, in syaa Allah. Dengan begitu, melatih kita menjadi keluarga yang mandiri, tidak bergantung pada keluarga. Dan keluarga paling dekat ya tetangga (beda cerita kalau rumah saudara-saudara nya bersebelahan hehe). 

Mengacu pada hadist Rasulullah tentang tetangga yang sholih (baik), itu adalah rezeki, itu adalah kebahagiaan. Saya merasa sangat senang jika bisa berbagi dengan tetangga. Sesekali berbagi makanan, entah dari bikinan sendiri, atau beli atau makanan yang lebih banyak dari sebuah event bisa diberikan pada tetangga. Saya memang tidak setiap hari main untuk 'nangga', tapi sekali dua kali melipir leyeh-leyeh di pelatarannya, ngobrol ngalor ngidul.. bisa menambah kedekatan juga dengan tetangga.

Dan pertanyaannya, sudah benarkah adab kita dalam bertetangga? yuk di cek lagi.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaq ‘alaih).

Tah eta, kita memang harus memuliakan tetangga. Ini juga sebagai peringatan buat saya dan suami. Kita memang harus lebih dekat dengan tetangga. Karna bagaimanapun, kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan lainnya. Maka kehadiran tetangga di sekitar rumah kita sangat dibutuhkan. Kita pun harus memperhatikan hak-hak mereka, misalkan jangan mengganggu bangunan rumahnya sesuai dengan hadist Rasulullah

Janganlah salah seorang di antara kalian melarang tetangganya menancapkan kayu di dinding (tembok)nya” (HR.Bukhari (no.1609); Muslim (no.2463); dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau; Ahmad (no.7236); at-Tirmidzi (no.1353); Abu Dawud (no.3634); Ibnu Majah (no.2335); dan Malik (no.1462)).

Selain itu juga, kita tidak boleh mengganggu tetangga dalam hak mereka. Misalkan menyetel musik keras-keras, menutupi jalan yang mereka lewati, dan lain sebagainya yang mengganggu hak-hak mereka. Ketika tetangga kita bersuka cita, maka kita pun ikutlah berbahagia. Namun ketika tetangga kita berduka maka berempatilah kita pada mereka. 

Sebelum memutuskan untuk pindah rumah juga kita harus mengetahui bagaimana kondisi lingkungan sekitar rumah yang akan kita tempati. Harapannya adalah lingkungan sekitar kita yang baik dan ramah anak. Mengapa ramah anak? karna lingkungan ini yang paling dekat dengan anak, yang akan membentuk kepribadian anak. Jikalau lingkungannya tidak baik, bagaimana kita akan mengharap lebih akan pendidikan untuk anak yang baik? Minimalnya, dan yang paling utama adalah dari lingkungan keluarga sendiri. Mengutip kata-kata Mbak Sundari Eko Wati, "Sekolah dan les itu adalah alat. Pendidikan, habbit, penanam nilai yang utama berawal dari rumah." Ya itu adalah kita bu ibu.....

Harapannnya kita bertetangga dengan tetangga yang sholih (baik), namun jikalau diberi ujian oleh Allah bersebelahan dengan tetangga yang kurang baik akhlaknya, maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik ya bu ibu... "fashbir shobron jamiila.." udah inget kalimat itu aja! Fashbir shobron jamiila...

Jadi bu ibu, pak bapak... teruslah berdoa, semoga tetangga kita adalah tetangga yang sholih, yang jika berada di dekatnya kita akan merasa banyak sekali kebaikan-kebaikan yang terus mengalir untuk kita. Dan kita pun teruslah berikhtiar menjadi tetangga yang sholih, yang dengan adanya keberadaan kita, para tetangga-tetangga kita bisa merasakan kebermanfaatannya dengan telah ditunaikannya hak-hak mereka.

#30DaysWritingChallengeDay3
#ODOPfor99Days3

Rabu, 03 Januari 2018

Camping ceria

Januari 03, 2018 0 Comments
Ini posting cerita lama sebenarnya, hanya masih di draft jadi baru di posting sekarang. Ceritanya, Ayah Azzam senang bertualang, sering muncak dan beliau ingiiiin sekali mengajak keluarga kecilnya menikmati juga keindahan alam yang telah Allah ciptakan. Mau muncak? enggak dong ya.. Puncak sangat dingin dan saya belum berani di puncak dengan membawa bayi, yang saat itu Kakak Azzam baru berumur 10 bulan. Saya juga sebenanrnya ingiiiin sekali muncak dan itu salah satu impian yang belum terwujud. Sesaat setelah menikah, cuaca lagi musim hujan dan saya pun langsung diberi amanah mengandung Azam jadilah belum jadi untk muncak. Dan alternatif lainnya untuk tetap menikmati alam adalah camping. That's a good idea! 

Alhamdulillah...
Kakak Azzam usia 10 bulan :D

Ini adalah pengalaman pertama Azzam melakukan  camping. Sebelumnya kami melakukan beberapa persiapan. Pertama tentunya kondisi kesehatan dong yaa.. karna ini merupakan salah satu nikmat dari Allah yang sangat berharga. Kalau kita sehat, apapun aktivitasnya bisa kita lakukan (tentu dengan izin Allah). Alhamdulillah Kakak dalam kondisi sehat wal'afiat, begitu juga dengan emak bapaknya sehat bugar dan bahagia tentunya :D. Udah niat banget untk camping di alam terbuka dan beneran camping. Bukan Glamping (glamour camping yang lagi hits sekarang-sekarang ini). Persiapan lainnya seperti bahan makanan (saat itu saya hanya membawa mie rebus, telor, beras, dan buah), alat masak ( bahan bakar spiritus), lampu tempel, senter, pakaian ganti secukupnya (terhitung dari Selasa sore hingga Rabu), 3 selimut juga bedcover (haha), kamera tentunya untuk mendokumentasikan kegiatan camping.

Bahagia? tentu bahagia... hebatnya adalah Azzam bisa melewati malam yang sangaaaaat dingin dengan tidurnya yang nyenyak banget. Padahal saat itu sedang hujan cukup deras dan angin yang sangat kencang. Ayah dan mamahnya saja sering terbangun gegara kedinginan, meskipun berpelukan, berpegangan tangan tetap saja dinginnya terasa. Memang kuasa Allah..Masyaa Allah...

Hari itu kami camping di Bumi Perkemahan Ipukan, Palutungan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Berangkat pada hari Selasa, 16 Agustus 2016 pada pukul 14.00 WIB. Perjalanan dan istirahat selama kurang lebih 2 jam dan kemudian sampai bimu perkemahan sekitar pukul 16.00. Ayah langsung membuat tenda dan merapihkan barang-barang. Saat tenda sudah jadi, saya langsung masak nasi dan bikin telor mata sapi. Air minum bawa dari rumah hehehe. Walapun dekat dengan mata air, untuk antisipasi jadilah kami bawa air mineral dari rumah.

Jelang tengah malam hujan deras dan angin kencang. Langsung pakai semua perlengkapan mengindari udara yang sangat dingin. Pakaian lengkap selimut double tetap saja saya kedinginan hahaha. Azzam alhamdulillah anteng banget, tanpa kebangun sama sekali di malam harinya. Sampai waktu shubuh baru bangun dan langsung mainan bendera yang kami bawa untuk menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia tercinta.

Singkat cerita Rabu siang jelang sore kami bersiap-siap untuk pulang ke Cirebon dan alhamdulillah satu keinginan tercapai untuk camping... :). Next moment camping lagi ya! :D
Foto saat tenda sudah jadi

Malam hari ketika sedang hujan deras dan angin kencang
Tengah malam saat kebangun gegara dingiiiiiin sekali

                                      

Sesaat mau pulang di hari minggu siang jelang sore


#30DaysWritingChallengeDay2
#ODOPfor99Days2


Selasa, 02 Januari 2018

Resolusi 2018

Januari 02, 2018 0 Comments
Bismillah, diaminkan yaa bagi yang membaca ini :D

1. Gabung di group WAG #ODOPfor99days

2. Kuliah di IIP (Institut Ibu profesional)

3. Rajin posting di group KEB (Kumpulan Emak-emak Blogger)

{Keempatnya adalah komunitas menulis. Kenapa saya gabung di ketiga nya? Karena ini sangat bermanfaat, recommended bagi emak-emak yang punya passion sama di bidang kepenulisan}

4. Target 12 judul buku yang tuntas dibaca

4. Bikin sebuah buku tentang parenting atau lainnya

5. Lulus Homeschooling Azzam preschool di tahun pertamanya (2th years old)

6. Bismillah umroh sekeluarga

7. Bantuan buat Mamah bikin rumah tingkat :*

8. Usaha kambing dan domba Ayah capai 30 ekor

9. Healthy life and healthy food (luas banget maknanya, jabarin di waiting list yaa)

10. Promil (program hamil) lagi untuk adik Azzam :)

11. Dhuha dan Tahajud lebih kenceng lagi dong!

12. Silaturahim ke temen TK, SD, SMP, MAN, kuliah dan temen kerja. Karna dengan silaturahim, maka Allah akan memperluas rizki kita, memperpanjang umur kita dan masih banyak manfaat lainnya dari silaturahim

13. Sebagai Manager Kerumahtanggan, bismillah lebih bijak lagi dalam mengelola keuangan

10 Januari berakad

Januari 02, 2018 2 Comments
Pada sore hari yang teduh, tepatnya pukul 17.35 WIB. Saat hujan gerimis datang dengan syahdunya dan saya rasa suasana seperti ini adalah sebagai nikmat dari Allah untuk menambah romantisnya saat kami (saya dan suami) berpacaran. Kebetulan suami saya sedang sakit jadilah beliau ijin dari kerjanya untuk hari ini. Kebetulan juga Kakak  Azzam kecapean main seharian ditambah baby message and baby gym pula jadilah ia langsung tidur. 

Kegiatan berpacaran kami yang sangat simple. Suami membaca buku dan saya bersandar di sampingnya sambil memegang jari jemari kokohnya, sambil sesekali scroll down layar handphone saya yang isinya begitu-begitu saja haha. Sambil juga berbincang-bincang ringan namun penuh makna (gak usah dibahas lah ya bincang-bincang intim nya). Dan di sela-sela perbincangan itu, saya berucap pada beliau "Sayang, Nurul bersyukur punya suami kayak mas, alhamdulillaah... tetap rendah hati ya, tetap jadi pribadi yang sederhana" dan beliau berkata "Alhamdulillaah, in  syaa Allah siap Nyonya" :). Sesekali saya menatap wajah teduhnya, sesekali juga saya flashback kejadian lampau yang mempertemukan saya dan beliau.

Sungguh ini adalah campur tangan Allah. Semua sudah tertulis di lauhul mahfudz. Pun bagaimana cara Allah mempertemukan kami berdua. Saat masih lajang, tepatnya saat usia galau-galau nya untuk memikirkan jenjang pernikahan, saya selalu berdoa pada Allah "Allah, pertemukan saya dengan orang sholih yang kelak ia akan menjadi pendamping hidup saya, membimbing saya dan keluarga untuk masuk jannahMu. Dan pertemukanlah kami dengan cara yang  baik, yang Engkau ridhoi. bukan jalan yang Engkau murkai". 


Sampai bulan Juli 2014, saat sedang melaksanakan shaum ramadhan, dan saya bersama teman-teman liqo beritikaf di Masjid At taqwa. Dalam iktikaf pun banyak do'a-do'a yang dipanjatkan pada Allah, dan salah satunya adalah tentang jodoh. Tiba-tiba seminggu sebelum hari raya Idul Fitri, ada seseorang yang bertanya lewat pesan singkat. Inti pertanyaannya "Sudah ada calonnya belum? Kalau belum, boleh saya melamar Bu Nurul?"

Hehe kalau saya ceritakan ulang kembali kejadian dulu pada beliau, akan ada tawa dan sedih dalam raut wajah nya. Tawa ketika malu mengungkapkan segala macam isi hatinya di depan Bapak saya. Pertama kali bertemu dengan Bapak langsung melamar saya, saya pun shock dibuatnya dengan wajah kaget haha. Gimana enggak? kenal aja belum sama Bapak eh tiba-tiba langsung minta aja.  Dalam hati pun berujar, ini lelaki berani banget, ketemu sama saya pun hanya saat saya masih kerja di NF dan itu pun sebentar (kurun waktu 3 pekan) dan enggak tiap hari. Apalagi sama Bapak yang baru pertama kali bertemu. Memang sih sebelumnya saya sudah mengenalkan suami saya (yang saat itu statusnya masih calon) lewat biodata ta'aruf, tapi kan belum bertatap muka. Gak gampang boy, jare Bapak wkwkwk.

Dan sedih nya karena perjuangan untuk menikah memang tidaklah mudah :'(. Mungkin itu juga dirasakan setiap calon pasangan yang akan menikah, dan prosesnya memang berbeda-beda. Terkadang saya juga sedih kalau flashback kisah dahulu. Tapi bukan pengalaman kalau tidak menjadi pelajaran. Dan kami berdua mengambil pelajaran dari semuanya itu, in syaa Allah. Dengan segala proses nya yang panjang, negosiasi yang matang dan doa yang terus berusaha melangit, akhirnya Allah permudah jalannya. 

Tepat tanggal 10 Januari 2015 suami berakad. Alhamdulillah sah...sah...sah...
Langsung mengalir air mata saya saat itu, alhamdulillah ditemani temen-temen liqo yang sudah sedari pagi menunggu. Sedih, senang, haru bahagia dan semuanya campur menjadi satu. Lega rasanya. Setelah sah, langsung saya keluar kamar dan menghampiri suami juga penghulu dimeja akad. Senyum sumringah campur nervous ada dalam raut wajahnya. Dan dengan rasa canggung beliaupun menggandeng tangan saya menuju pelaminan. Itulah kali pertamanya jari jemari kami berpadu saling menggenggam erat. Ah tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan saat itu.. terlalu bahagia :*


Singkatnya, dalam cerita ini saya hanya akan menyampaikan jazakallah teruntuk ayah nya Azzam, Zefry Novizar. Jazakallah khairan katsiiran atas segala lelahnya dalam mencari nafkah untuk keluarga, atas kesabarannya dalam menghadapi saya, atas keikhlasannya dalam membantu pekerjaan rumah tangga, dan atas kesabarannya dalam mendidik :'( juga atas kebaikan-kebaikan lainnya. In syaa Allah, Allah yang akan membalasmu dengan segudang pahala, Ayah. Uhibbukafillah :*


NB: ini tulisan nyampe banget 2 jam, karna Ayah lagi sakit, jadilah disambi ini itu sambil ngurusin Ayah. Syafakallah Ayah Azzam... semoga sakit kali ini menjadi penggugur dosa-dosa yang telah lalu ya :). Dan yang buat saya tersenyum malu-malu adalah saat 'ngerokin' dan mijetin Ayah, Ayah tetiba bilang "Alhamdulillah punya istri kaya Nurul, makasih ya sayang....." Langsung terbang deh idung saya hahahaha.


*hampir 3 tahun masa pernikahan* 10 Januari 2015- 2 Januari 2018

Rabbanaa hablanaa min azwaajina wadzurriyaatina qurrota'ayun waj'alna lilmuttaqiina imaama. Semoga sakinah mawaddah wa rohmah hingga jannah. Aamiin, Allahuma aamiin.

#30DaysWritingChallengeDay1
#ODOPfor99Days1

Rabu, 11 Oktober 2017

Ikhlas ya Mak...

Oktober 11, 2017 0 Comments
*My precious

Kalian pernah menonton film The Lord of The Ring, bukan? Syukur-syukur juga pernah membaca bukunya. Tolkien, pengarang buku itu, menjelaskan bahwa pahlawan paling utama dalam cerita yang dia karang adalah Sam. Bukan Gandalf, bukan Frodo, bukan Aragorn, melainkan Samwise Gamgee.
Apa yang telah dilakukan Sam hingga dia disebut pahlawan paling spesial? Sepanjang cerita dia hanya "membantu". Dia membantu tokoh utama dengan tulus, setia, dan tangguh. Dia menyelamatkan berkali-kali tokoh utamanya. Dan yang paling super, dialah yang paling mudah melepaskan cincin sakti itu. Berikan cincin itu ke Sam, maka dengan mudah Sam melepaskannya kembali, karena Sam tidak punya ambisi my precious, my precious. Dia menyadari dengan sungguh2 posisinya, mengerti tanggung-jawabnya, kemudian melaksanakannya dengan ihklas.

Di dunia ini, potret Sam ada di mana-mana. Jika kalian guru, maka sungguh kalianlah pahlawan paling utama. Kalian laksana seorang Sam. Murid-murid kalian tumbuh menjadi Frodo, Aragorn, Gandalf masa kini (Presiden, Inventor, jenderal, pengusaha, dokter, dll), murid-murid kalian menjadi orang hebat, tokoh utamanya. Sedangkan guru, tetap di sana-sana saja posisinya. Kalian membantu tokoh utama dengan tulus, setia dan tangguh agar tumbuh menjadi keren. Kalian juga menyelamatkan mereka (saat mereka malas, nakal, melakukan kesalahan), kalian memberikan motivasi, dorongan, kesempatan berikutnya. Dan yang paling supernyanya lagi, kalian melepaskan kesempatan yang mungkin lebih baik selain menjadi guru, kalian memilih dengan sadar posisi sebagai guru.

Pun ibu rumah tangga, itu juga adalah potret Sam. Seorang ibu rumah tangga, juga memilih posisinya, lantas membantu tokoh utama. Anak-anaknya, suaminya, mereka tumbuh menjadi orang hebat, ibu rumah tangga cukup tersenyum menatap semuanya. Selalu bahagia dan bersyukur. Ibu rumah tangga yang baik, adalah pahlawan, dalam kaca mata peradaban manapun, masyarakat manapun, juga agama manapun. Derajat mereka tidak terbantahkan--kecuali oleh orang-orang yang tidak paham hakikatnya.

Jangan berkecil hati jika kita hanya menjadi "peran pembantu" dalam hidup ini. Sepanjang dilakukan dengan tulus, kebahagiaan tetap bisa kita rengkuh. Kita tidak pernah bicara tentang siapa yang akan memuji, siapa yang akan mengelu-elukan kita. Tidak pernah. Kita selalu bicara tentang kebahagiaan di dalam hati sendiri.

Jangan berkecil hati jika kita hanya mendapatkan peran remeh-temeh. Pun jangan berkecil hati jika kita dalam situasi paling menyebalkan, kecewa atas peran tersebut. Apa kata Sam ketika mereka di salah-satu titik nadir, titik dasar petualangannya? "Ada banyak hal baik di dunia ini, Master Frodo, dan itu layak kita perjuangkan habis-habisan."
*Tere Liye

MasyaAllah, iya juga ya. Tokoh utamanya ternyata bukan frodo, gandalf apalagi legolas si rambut pirang yg gagah. Tapi ia adalah Sam yg dengan ikhlasnya senantiasa menemani frodo sampai titik akhir perjuangan hingga cincin itu dilemparkan ke mordor.  Begitulah halnya dengan ibu rumah tangga. Seperti yang sedang saya perankan ini. Bangun lebih awal dan tidur di akhir waktu (kecuali jika memang sudah lelaaaah sekali, biasanya saya ijin mendahului suami). QL untuk mendoakan suami, anak, orangtua,  keluarga, orang-orang di sekitarnya dan saudara seiman tentunya. Tidak lantas tidur, tetapi pekerjaan rumah sudah menunggu didaftar waiting list nya. Sembari mesin cuci berputar, biasanya saya beres-beres rumah dan melakukan hal lainnya. Tapi tidak melulu saklek harus semua dikerjakan dalam satu waktu. Kalau lagi datang perfeksionis nya, saya memang kudu wajib menyelesaikan pekerjaan dalam satu waktu dan itu membuat badan lelah Mak :( karena memaksakan diri dan saya selalu diingatkan paksu bahwa santai tapi serius adalah andalannya. Setelah diingatkan itulah saya jadi lebih santai dan fleksibel. Urusan masak pun tidak setiap hari saya memasak. Berbagi rizkilah dengan warung masakan tetangga alias beli masakan jadi :). Kalau lagi malas mencuci, berbagi rizki lah dengan tukang laundry. Dan perihal lainnya terkait kerumahtanggaan, jadilah pribadi yang senang berbagi. Jika memang kita semua ikhlas menjalankan peran yang sudah seharusnya, in syaa Allah, Allah pun akan memberikan hasil yang berbanding lurus dengan ikhtiar kita. Misalkan pagi-pagi lagi beberes rumah, tiba-tiba suami meluk dari belakang dan nyuapin saya jeruk lewat b***r nya. Itu mah rizki istri sholihah #eaaaaaa. Allah yang menggerakan hati suami kita kan? Tiba-tiba lagi suami nawarin jalan-jalan di ahad pagi yang cerah, itu sih rizki istri sholihah juga. Syukuri aja semua yang udah Allah kasih, dan memang tugas kita hanya taat bukan? #cmiiw

Rabu, 27 Juli 2016

Balada demam

Juli 27, 2016 0 Comments
Masuk hari ke-3 demam sudah melanda tubuh mungilnya. Innalillahi, syafakallah ya kak. Kalau demam sudah datang, emaknya yang agak panik. Maka datanglah sang penenang, si abang sholih. Sebenarnya berusaha ngga panik, tapi anggeur wae ngeliat anak gelisah, diem tak berdaya (yang biasanya aktif gerak sana gerak sini), makan sedikit, nangis dan inginnya sandaran terus di emaknya, secara spontan panik mulai melanda. Ibu siapa yang tega ngeliat anaknya begitu? Doanya bukan "Sakitnya pindahin aja ke emaknya", tapi cukup sembuhkanlah anak saya Ya Allah.. karna kalau ucapan tadi jadi doa, beneran emaknya yang sakit, maka siapa yang akan merawat anak dan suaminya nanti? 

Ketika diawali dengan perubahan suhu jadi anget atau bahkan langsung tiba-tiba panas, hal pertama yang dilakuin adalah ambil termometer, cek suhunya. Azzam memiliki suhu tubuh yang biasanya hangat (kayak emaknya yang selalu memberikan kehangatan, eaaaa :D). Jika suhu tubuh lebih dari 37 decel, maka itu bisa dikatakan demam. Pernah bahkan sampai 39,2. Langsung deh buka bajunya, hanya tinggal diapers dan atau kaos dalamnya saja. Sementara  ayahnya membuka baju dan kemudian memeluknya, emaknya menyiapkan air kompresan dan waslap nya. Kenapa ketika suhunya tinggi langsung lepas baju dan dipeluk? supaya terjadi perpindahan suhu, setidaknya sedikit menurun. Setelah dipeluk, kompres di bagian ketiak dan lipatan paha. Jangan menggunakan pakaian tebal atau selimut. ASI jangan berhenti, pokoknya bagaimanapun caranya emaknya harus banyak ide supaya bayi terus mau minum ASI, jangan sampai dehidrasi. Di rumah memang menyediakan obat penurun panas, seperti paracetamol. Tapi selagi bisa yang alami, saya lebih prefer yang alami. Seaman-amannya obat kimia, pasti ada efek sampingnya. Alhamdulillahnya di sekitar rumah juga ada daun cincau. Maka saya menggunakan daun itu sebagai cara alami yang saya tempuh. Daunnya dicuci bersih sekitar 4-5 helai. Kemudian diremas-remas sampai agak mengental, lalu oleskan pada bagian kepalanya. Memang tidak bisa langsung turun, butuh proses beberapa jam untuk meredakannya. Bahkan 2-3 kali ganti perasan daun cincau. Pernah juga suatu ketika panasnya ngga turun-turun, cara pamungkas adalah dengan memberinya obat penurun panas (sesuai resep dokter lho ya).

Balada demam ini memang menguji kesabaran, kesabaran anak, mamah dan ayahnya. Tapi doa yang pasti diucapkan adalah, syafakallah ya Kakak Azzam..... semoga Allah memberimu kesehatan yang sempurna.

Sabtu, 16 Juli 2016

KEB

Juli 16, 2016 4 Comments
Alhamdulillah, beruntung punya temen-temen sholih juga menyolihkan dan berwawasan luas. Dipertemukanlah dengan KEB (kumpulan emak blogger). Semoga bisa menambah hasanah pengetahuan dari berbagai aspek kehidupan. Secara, menulis nya saya masih moodian, semoga dengan ikut komunitas ini semakin menambah getol nya saya untuk menulis. Jadi terkesan, kalau belum posting satu tulisan dalam jangka waktu tertentu itu ibarat kita masih punya hutang yang harus dilunasi. Bismillah... #karena menulis itu hobby, happy with writing :) #keep smile :)

ijin masukin logo dan alamat KEB ya makmin di postingan ini :)



Juli 16, 2016 0 Comments
Sebenarnya saya kurang sependapat dengan pepatah yang mengatakan bahwa "Time is money". Sebab kenyataannya bahwa waktu itu lebih berharga daripada sekedar uang. Pernah sih menyia-nyiakan waktu, lebih tepatnya leyeh-leyehnya terlalu lamaaaaa banget sehingga melalaikan pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya dikerjakan saat itu. Tapi apalah daya, badmood sedang menyerang tanpa notification dulu sebelumnya. Dan pada akhirnya menyesal sambil berujar "Coba aja daritadi ngerjainnya ya". Intinya sih, tubuh memang butuh refresh, leyeh-leyeh bolehlah sebentar. Lalu kita bisa melanjutkan pekerjaan lagi setelah tubuh dan fikiran juga hati (tentunya) cukup segar untuk menunaikan kewajiban-kewajiban sebagai istri dan ibu yang sholihah. untuk si abang sholih dan si ganteng Azzam :* :*
Juli 16, 2016 0 Comments
Alhamdulillah...... sabar dan syukur yang akan menolong kita menjadi orang yang bahagia. Bahagia dengan  semua nikmat yang Allah berikan. Alhamdulillah... :)